Chauvinist – Feminist: Antara Penjajah, Terjajah, Dan Teh Yoan
“Wanita dijajah pria sejak dulu,
Dijadikan perhiasan sangkar madu.
Namun ada kala pria tak berdaya,
Tekuk lutut di sudut kerling wanita”
Sebagai lelaki saya sebenarnya merasa sakit hati karena dikatakan sebagai penjajah. Tapi lagu yang diciptakan pada saat nenek saya masih remaja dan sangat cantik ini memang cukup bisa menggambarkan kondisi perempuan saat itu.
Saya berkeyakinan bahwa lagu ini juga menyulut semangat wanita Indonesia untuk mengikuti jejak Kartini dan Dewi Sartika beremansipasi. Untuk menunjukkan pada dunia yang chauvinistis bahwa alat kemenangan mereka bukan hanya body sexy dan kerlingan mata yang genit. Tetapi juga otak yang mumpuni dan karya yang terbukti.
Mungkin setelah ‘dijajah’ sekian lama, sebagian dari para emancipator yang menyatakan diri mereka sebagai feminis terjebak dalam euphoria. Mereka terlalu bersemangat sehingga kebablasan. Menafikan norma-norma hidup, terutama norma agama yang mereka anggap sebagai ‘penjara’ bagi kemajuan kaum wanita, dan kitab sucinya sebagai buku pedoman para penjajah.
Sebagai orang yang akan menapaki gerbang pernikahan, tentu saja banyak menerima masukan dari banyak pihak. Termasuk salah satunya dari Teh Yoan, kakak dari pihak calon istri. Betapa dalam hubungan pria-wanita (suami-istri) tak perlu ada dominasi bahkan usaha untuk saling mendominasi. Tak ada istilah superior dan inferior. Pihak pria tak boleh menjajah dan yang wanita jangan merasa terjajah. Apalagi sebaliknya. Karena Allah mendesain kedudukan pria dan wanita itu sejajar, walaupun Allah memberikan kedudukan lebih bagi pria. Namun demikian, kelebihan pada pria pun tidaklah diberikan Allah secara gratis, kelebihan itu satu paket dengan serangkaian tanggung jawab yang tidak dibebankan kepada wanita di dunia dan akherat.
Jadi hubungan suami dan istri seharusnya adalah hubungan saling membutuhkan, saling melengkapi, saling menguntungkan. Yang dalam pelajaran biologi disebut simbiose mutualisme. Di luar dari pada konsep tersebut berarti melanggar sunnatullah. Tidak sesuai kodrat. Dan hal-hal yang tidak berjalan di atas rel keridhaan Allah tak akan berujung pada kebahagiaan dunia apalagi akherat.
Jadi kesimpulannya; jangan jadi chauvinist, jangan pula dukung feminis. Pilih yang Islamis saja.