Posted by: abuyervant on: March 7, 2009
Toilet oh toilet.
Bukan merupakan tempat yang kita ingin berlama-lama di dalamnya. Tempat yang hanya akan kita kunjungi bila kita benar-benar merasa perlu. Seringkali merupakan bagian terjorok dan terbau dari sebuah bangunan.
Dia sangat kita perlukan, tetapi terpinggirkan. Read the rest of this entry »
Posted by: abuyervant on: October 28, 2008
Kereta Parahyangan pukul 17.05 baru sekitar sepuluh menit lalu bertolak dari Stasiun Bandung, ketika rasa lapar menggelitik diriku. Mengingatkanku bahwa siang tadi aku tak sempat makan. Mungkin bukannya tak sempat, aku memang siang tadi tak begitu merasa lapar, karena baru jam sepuluhan pagi tadi memakan sarapanku.
Aku bangkit dari kursiku menuju gerbong restorasi. Perutku sudah terlalu lapar untuk menunggu pelayan gerbong sampai ke tempatku duduk. Ternyata di sana hampir penuh. Untungnya masih ada satu kursi tersisa, akupun mendudukinya. Read the rest of this entry »
Posted by: abuyervant on: March 25, 2008
Sahabatku kecewa. Tidak diterima di Fakultas Kedokteran. Sekarang alhamdulillah menjadi konsultan diperhitungkan di beberapa rumah sakit berstandar internasional.
Sahabatku kecewa. Mau menikah dengan pramugari tetapi ditolak karena waktu itu dia belum menjadi manusia yang layak untuk menjadi suami perempuan tersebut. Alhamdulillah sekarang menjadi pemilik penyewaan pesawat untuk rute beberapa kota, dan punya banyak karyawan dan karyawati, termasuk pramugari. Read the rest of this entry »
Posted by: abuyervant on: April 28, 2005
“Wanita dijajah pria sejak dulu,
Dijadikan perhiasan sangkar madu.
Namun ada kala pria tak berdaya,
Tekuk lutut di sudut kerling wanita”
Sebagai lelaki saya sebenarnya merasa sakit hati karena dikatakan sebagai penjajah. Tapi lagu yang diciptakan pada saat nenek saya masih remaja dan sangat cantik ini memang cukup bisa menggambarkan kondisi perempuan saat itu. Read the rest of this entry »
Posted by: abuyervant on: December 15, 2004
Mari kita ke dermaga kehidupan
Kita bangun bahtera dari bahan cinta.
Kecintaan kita pada Sang Pencipta,
Kecintaan engkau padaku,
Kecintaan aku padamu.
Berbekal peta Sang Utusan,
Kita jelang luas lautan.
Dengan kemudi iman,
Kita arungi harmoni ketenangannya,
Dan gulungan badainya
Jangan takut lapar kekasih,
Yang Maha Pengasih melimpahi laut ini dengan makanan.
Ia yang kau tangisi dan harapkan ridha-Nya melalui pengabdian,
Akan gantikan air matamu dengan intan.
Mari menangis bersamaku,
Tertawa bersamaku,
Mengarungi samudera ujian-Nya
Kemudian bersujud syukur bersamaku,
Di atas hamparan pasir yang harum
Di pantai keridhaan-Nya
Posted by: abuyervant on: December 15, 2004
Sesungguhnya,
Allah lah penguasa atasku.
Ia menggerakkan aku,
Sumber pikir akalku,
Cahaya hatiku.
Jadi;
Jangan tanyakan padaku
Mengapa aku jatuhkan hatiku padamu.
Tanyakan pada-Nya
Mengapa Ia titipkan
Kegelisahan terhadapmu kepada kedalaman hatiku.
Juga, jangan katakan bahwa
Aku mungkin salah telah memilihmu.
Karena Ia yang memilihmu untukku
Dan Ia tidak pernah keliru
Posted by: abuyervant on: December 7, 2004
“Bagaikan punguk
Merindukan bulan”
Adalah bahasa yang digunakan
Untuk gambarkan keinginan
Yang tak sesuai kemampuan
Begitu banyak kelebihan
Yang ada padamu, sehingga
Keinginanku bagai punguk rindukan bulan,
Karenanya;
Izinkan aku,
Menjadi punguk pertama di bulan
Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, Bunda Khosyi telah masuk ke dalam kehidupan saya yang paling dalam. Keshalehan dan kecantikannya langsung mempesona saya, dan menggerakkan saya untuk menulis puisi ini dengan izin Allah. Dan dengan izin Allah pula puisi yang saya sembunyikan ini, terbaca juga olehnya.